Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja 6 sasaran tersebut dan bagaimana implementasi praktisnya di lingkungan Puskesmas
Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Berikut adalah rincian 6 Sasaran Keselamatan Pasien yang wajib dipahami oleh seluruh tenaga kesehatan:
1. Ketepatan Identifikasi Pasien
Ketepatan identifikasi pasien adalah salah satu aspek kritis dalam yang menyoroti masalah-masalah potensial dalam pelayanan kesehatan.
Hal ini berarti bahwa ketika seorang pasien datang ke fasilitas perawatan kesehatan, petugas harus memverifikasi identitas pasien dengan menggunakan dua informasi yang unik untuk pasien tersebut yang dapat berupa nama lengkap, tanggal lahir, nomor rekam medis, atau nomor pasien. Menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien tidak cukup karena pasien dapat dipindahkan atau terdapat lebih dari satu pasien di ruangan yang sama.
Sebelum memberikan obat atau melakukan prosedur medis seperti transfusi darah, maka penting untuk memastikan bahwa pasien yang akan menerima tindakan tersebut adalah pasien yang benar. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan verifikasi identitas pasien melalui pemeriksaan gelang identifikasi pasien, bertanya kepada pasien tentang nama dan tanggal lahir, atau menggunakan sistem identifikasi elektronik.
Sebelum mengambil sampel darah atau spesimen lainnya untuk pemeriksaan laboratorium atau diagnostik, petugas harus memastikan bahwa pasien yang bersangkutan telah diidentifikasi. Identifikasi pasien tersebut dilakukan untuk mencegah sampel dari pasien yang salah.
Sebelum melakukan pengobatan atau tindakan medis apapun, identitas pasien harus diverifikasi secara cermat. Proses ini termasuk untuk memastikan bahwa pasien yang akan menerima tindakan atau pengobatan adalah pasien yang tepat.
Setiap fasilitas pelayanan kesehatan penting untuk memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas dan konsisten. Hal ini membantu memastikan bahwa identifikasi pasien dilakukan dengan cara yang sama pada semua situasi dan lokasi, sehingga mengurangi risiko kesalahan identifikasi pasien.
2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Peningkatan komunikasi yang efektif adalah esensial dalam menjaga keselamatan pasien. Komunikasi yang tepat dan jelas antara tenaga medis adalah kunci untuk mencegah kesalahan medis dan meningkatkan perawatan pasien.
Teknik SBAR: (Situation, Background, Assessment, Recommendation) digunakan saat melaporkan kondisi pasien.
Teknik TBAK: (Tulis, Baca Kembali, Konfirmasi) dilakukan saat menerima instruksi verbal atau hasil tes kritis melalui telepon.
3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert)
Peningkatan keamanan obat bertujuan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan obat dan mengoptimalkan pengelolaan obat di lingkungan perawatan kesehatan.
Berikut elemen penilaian mengenai peningkatan keamanan obat sebagaimana disebutkan dalam bagian lampiran Permenkes :
Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat.
Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan.
Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-Pasien Operasi
Sasaran ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa setiap prosedur atau tindakan pembedahan dilakukan pada pasien yang benar, di lokasi yang benar, dan sesuai dengan prosedur yang benar.
5. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan. Selain itu, peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Untuk itu, perlu dilakukan tindakan yang dapat diterima secara umum guna mewujudkan keselamatan bagi pasien.
6. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Pengurangan risiko pasien jatuh merupakan upaya penting untuk mencegah cedera akibat jatuh dalam lingkungan puskesmas. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah kasus pasien yang jatuh dapat menjadi penyebab cedera bagi pasien rawat inap.
Tindakan: Melakukan asesmen risiko jatuh pada saat pendaftaran, memberikan tanda (stiker kuning), serta memastikan lingkungan fisik (lantai tidak licin, tersedia pegangan tangan) tetap aman.
Penting untuk dicatat bahwa keselamatan pasien bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan kesehatan semata, melainkan komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap individu yang menerima perawatan kesehatan mendapatkan perlindungan dan perawatan yang mereka butuhkan. Dengan dilakukannya penerapan sasaran keselamatan pasien yang tepat, maka tidak hanya menjaga pasien dari risiko cedera dan kesalahan medis, tetapi juga menciptakan lingkungan perawatan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berkualitas tinggi. Terlebih lagi, apabila sasaran keselamatan pasien dapat diterapkan dengan baik, maka akan memberikan dampak pada kepercayaan pasien yang meningkat, serta menciptakan budaya keselamatan yang kuat di seluruh organisasi kesehatan.