6 Sasaran Keselamatan Pasien Puskesmas

29 Juli 2026 Ditulis oleh Muh Ayyub Nihar Dilihat 1 kali

Dalam pelayanan kesehatan, keselamatan pasien adalah prinsip utama yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan pasien, tetapi juga pada mencegah risiko, kesalahan medis, dan komplikasi yang mungkin timbul selama perawatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, risiko dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari identifikasi pasien yang salah hingga risiko infeksi terkait perawatan kesehatan. Keselamatan pasien hadir sebagai bentuk komitmen untuk meminimalkan risiko yang terjadi sekaligus memberikan perawatan yang efektif.

Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja 6 sasaran tersebut dan bagaimana implementasi praktisnya di lingkungan Puskesmas


Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Berikut adalah rincian 6 Sasaran Keselamatan Pasien yang wajib dipahami oleh seluruh tenaga kesehatan:

1. Ketepatan Identifikasi Pasien

Ketepatan identifikasi pasien adalah salah satu aspek kritis dalam yang menyoroti masalah-masalah potensial dalam pelayanan kesehatan.

  • Proses identifikasi pasien dilakukan menggunakan dua identitas pasien, namun tidak diperkenankan menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien sebagai sarana identifikasi.
Hal ini berarti bahwa ketika seorang pasien datang ke fasilitas perawatan kesehatan, petugas harus memverifikasi identitas pasien dengan menggunakan dua informasi yang unik untuk pasien tersebut yang dapat berupa nama lengkap, tanggal lahir, nomor rekam medis, atau nomor pasien. Menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien tidak cukup karena pasien dapat dipindahkan atau terdapat lebih dari satu pasien di ruangan yang sama.
  • Proses identifikasi pasien dilakukan sebelum pemberian obat, darah, ataupun produk darah.
Sebelum memberikan obat atau melakukan prosedur medis seperti transfusi darah, maka penting untuk memastikan bahwa pasien yang akan menerima tindakan tersebut adalah pasien yang benar. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan verifikasi identitas pasien melalui pemeriksaan gelang identifikasi pasien, bertanya kepada pasien tentang nama dan tanggal lahir, atau menggunakan sistem identifikasi elektronik.
  • Proses identifikasi pasien dilakukan sebelum mengambil darah maupun spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.
Sebelum mengambil sampel darah atau spesimen lainnya untuk pemeriksaan laboratorium atau diagnostik, petugas harus memastikan bahwa pasien yang bersangkutan telah diidentifikasi. Identifikasi pasien tersebut dilakukan untuk mencegah sampel dari pasien yang salah.
  • Proses identifikasi pasien dilakukan sebelum masuk tahap pengobatan dan tindakan yang sesuai dengan prosedur.
Sebelum melakukan pengobatan atau tindakan medis apapun, identitas pasien harus diverifikasi secara cermat. Proses ini termasuk untuk memastikan bahwa pasien yang akan menerima tindakan atau pengobatan adalah pasien yang tepat.
  • Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.
Setiap fasilitas pelayanan kesehatan penting untuk memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas dan konsisten. Hal ini membantu memastikan bahwa identifikasi pasien dilakukan dengan cara yang sama pada semua situasi dan lokasi, sehingga mengurangi risiko kesalahan identifikasi pasien.

2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif

Peningkatan komunikasi yang efektif adalah esensial dalam menjaga keselamatan pasien. Komunikasi yang tepat dan jelas antara tenaga medis adalah kunci untuk mencegah kesalahan medis dan meningkatkan perawatan pasien.
  • Teknik SBAR: (Situation, Background, Assessment, Recommendation) digunakan saat melaporkan kondisi pasien.
  • Teknik TBAK: (Tulis, Baca Kembali, Konfirmasi) dilakukan saat menerima instruksi verbal atau hasil tes kritis melalui telepon.

3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert)

Peningkatan keamanan obat bertujuan untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan obat dan mengoptimalkan pengelolaan obat di lingkungan perawatan kesehatan.

Berikut elemen penilaian mengenai peningkatan keamanan obat sebagaimana disebutkan dalam bagian lampiran Permenkes :

  • Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat.
  • Implementasi kebijakan dan prosedur.
  • Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan.
  • Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).

4. Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-Pasien Operasi

Sasaran ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa setiap prosedur atau tindakan pembedahan dilakukan pada pasien yang benar, di lokasi yang benar, dan sesuai dengan prosedur yang benar.
  • Verifikasi: Melakukan penandaan lokasi operasi (site marking) dan menggunakan Surgical Safety Checklist sebelum tindakan dimulai untuk memastikan semua variabel sudah benar.

5. Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan

Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan. Selain itu, peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Untuk itu, perlu dilakukan tindakan yang dapat diterima secara umum guna mewujudkan keselamatan bagi pasien.
  • Solusi Utama: Kepatuhan mencuci tangan. Puskesmas wajib mengaduksi standar 5 Momen Cuci Tangan dari WHO serta menyediakan fasilitas wastafel dan handrub yang memadai di setiap titik pelayanan.

6. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh

Pengurangan risiko pasien jatuh merupakan upaya penting untuk mencegah cedera akibat jatuh dalam lingkungan puskesmas. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah kasus pasien yang jatuh dapat menjadi penyebab cedera bagi pasien rawat inap.
  • Tindakan: Melakukan asesmen risiko jatuh pada saat pendaftaran, memberikan tanda (stiker kuning), serta memastikan lingkungan fisik (lantai tidak licin, tersedia pegangan tangan) tetap aman.

Penting untuk dicatat bahwa keselamatan pasien bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan kesehatan semata, melainkan komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap individu yang menerima perawatan kesehatan mendapatkan perlindungan dan perawatan yang mereka butuhkan. Dengan dilakukannya penerapan sasaran keselamatan pasien yang tepat, maka tidak hanya menjaga pasien dari risiko cedera dan kesalahan medis, tetapi juga menciptakan lingkungan perawatan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berkualitas tinggi. Terlebih lagi, apabila sasaran keselamatan pasien dapat diterapkan dengan baik, maka akan memberikan dampak pada kepercayaan pasien yang meningkat, serta menciptakan budaya keselamatan yang kuat di seluruh organisasi kesehatan.
Estimasi baca: 10 menit
Bagikan: Facebook TwitterWhatsApp

Komentar

Komentar Anda akan langsung tampil.

0/1000

Memuat komentar...