Kenali DBD (Demam Berdarah Dengue)
25 Juni 20265 menit baca
Berantas sarang nyamuk dengan gerakan 3M Plus untuk mencegah demam berdarah dengue.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini memicu demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, dan berisiko menyebabkan syok serta perdarahan jika tidak segera ditangani. Penderita perlu mewaspadai kondisi ini, terutama saat demam sudah mulai turun.
Pasalnya, momen tersebut bukan menandakan penderita telah sembuh, melainkan fase kritis dari DBD yang berisiko menyebabkan komplikasi berbahaya. Mari simak informasi mengenai penyebab, gejala, komplikasi, hingga pengobatan DBD selengkapnya di sini.
Apa itu DBD (Demam Berdarah Dengue)?
DBD adalah penyakit yang disebabkan virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penderita demam berdarah dengue biasanya akan mengalami gejala berupa nyeri hebat, terutama pada tulang dan persendian yang terasa seolah-olah patah.
Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2023, terdapat sekitar 114.720 kasus DBD dengan 894 kematian. Komplikasi DBD dapat mengakibatkan kerusakan organ, seperti hati, jantung, dan paru-paru
Penyebab DBD
Virus dengue penyebab DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ketika nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah korbannya. Jenis nyamuk ini biasanya menyerang di pagi dan sore hari. Nyamuk Aedes aegypti cukup mudah dikenali dari warnanya yang belang hitam-putih dan memiliki ciri fisik kecil. Nyamuk ini tidak suka mendiami tempat yang kotor, melainkan menyasar tempat-tempat bersih, seperti bak mandi.
Selain itu, ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan terkena penyakit demam berdarah, antara lain:
- Tinggal atau sedang bepergian ke daerah tropis.
- Memiliki riwayat infeksi virus dengue.
- Anak-anak, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Maka dari itu, sebagai upaya pencegahan DBD, setiap orang disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan, menimbun barang bekas yang tidak terpakai, menghilangkan genangan air, dan menaburkan bubuk abate. Selain itu, disarankan juga untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, mengelola stres, olahraga secara teratur, dan memasang obat nyamuk di ruangan yang terindikasi tempat persembunyian nyamuk
Gejala DBD
Gejala DBD umumnya ditandai dengan demam tinggi hingga 39 derajat Celsius. Kondisi ini akan bertahan selama 2–7 hari, setelah itu penderita akan mengalami penurunan suhu drastis. Selain demam tinggi, berikut beberapa tanda dan gejala DBD lainnya:
- Sakit kepala.
- Mual hingga muntah.
- Nyeri di belakang mata, tulang, dan otot.
- Muncul ruam kulit atau bercak kemerahan di kulit.
- Radang tenggorokan yang diiringi dengan sulit menelan dan minum.
Gejala awal demam berdarah dengue biasanya diikuti dengan gejala tambahan yang menandakan virus sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh dan menyebabkan peradangan, seperti:
- Mimisan
- Gusi berdarah
- BAB berwarna hitam atau gelap
- Muntah darah
Setelah muncul gejala tersebut, penderita akan memasuki fase kritis selama 2–3 hari. Di fase ini, banyak orang yang menyangka sudah sembuh karena demam tinggi sudah menurun, rasa sakit di tubuh mulai berkurang, dan menghilangnya beberapa gejala tambahan. Padahal, fase ini harus diwaspadai karena bisa menyebabkan Dengue Shock Syndrome (DSS) yang bisa sangat berbahaya bahkan berpotensi menyebabkan kematian.
Komplikasi DBD
Penanganan cepat dan tepat merupakan kunci dari penanganan demam berdarah. Pasalnya, komplikasi demam berdarah dengue sangat berbahaya bahkan bisa berujung kepada kematian. Berikut yang wajib diwaspadai dari komplikasi demam berdarah dengue:
• Perdarahan: Ditandai dengan gusi berdarah, mimisan, muntah hitam, perdarahan di bawah kulit, batuk darah, dan feses berwarna hitam atau merah pekat.
• Dengue Shock Syndrome (DSS): Ditandai dengan gejala berupa dehidrasi, bradikardia, hipotensi, pupil mata melebar, napas tidak teratur, kulit pucat, dan keringat dingin.
▪ Gagal Ginjal Akut: Umumnya terjadi pada fase terminal sebagai akibat dari syok yang tidak tertangani dengan baik. Diuresis merupakan parameter yang penting dan mudah dikerjakan untuk mengetahui apakah syok telah teratasi. Diuresis diusahakan > 1 ml/Kg BB per jam.
• Ensefelopati Dengue: Dapat terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan perdarahan, tetapi dapat juga terjadi pada demam berdarah dengue yang tidak disertai syok. Pada ensefalopati dengue, kesadaran pasien menurun menjadi apatis atau somnolen.
▪ Edema Paru: Komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat dari pemberian cairan yang berlebihan. Jika tidak segera ditangani, penderita berisiko mengalami gangguan fungsi organ tubuh bahkan bisa menyebabkan kematian.
Pengobatan DBD
Belum ada pengobatan khusus yang bisa dilakukan untuk mengatasi demam berdarah, pengobatan biasanya bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dengan meredakan gejala yang muncul sekaligus melakukan upaya pencegahan infeksi virus yang lebih parah.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menangani demam berdarah dengue adalah:
- Konsumsi obat penurun demam.
- Konsumsi air putih dalam jumlah cukup untuk mencegah dehidrasi.
- Pantau frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar.
Bagi penderita DBD yang sudah cukup parah hingga tidak mampu mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak, biasanya dokter akan memberikan cairan tambahan lewat metode infus. Selain itu, tidak disarankan mengonsumsi obat pereda nyeri karena bisa meningkatkan risiko perdarahan.
Segera kunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama UPT Puskesmas Sapaya atau fasilitas kesehatan di sekitar anda jika mengalami gejala - gejala DBD, konsultasikan dengan dokter. Jangan tunggu sakit parah, kemudian bergegas untuk periksa. Ayo, lebih bijak dalam menyikapi gejala - gejala penyakit ditubuh kita.